KEBUDAYAAN
PULAU JAWA
1. SEJARAH
PULAU JAWA
Pemandangan Gunung Merbabu yang
dikelilingi persawahan. Topografi vulkanik serta tanah pertanian yang subur
merupakan faktor penting dalam sejarah pulau Jawa. Pulau ini merupakan bagian
dari gugusan kepulauan Sunda Besar dan paparan Sunda, yang pada masa sebelum es
mencair merupakan ujung tenggara benua Asia. Sisa-sisa fosil Homo erectus, yang
populer dijuluki “Si Manusia Jawa”, ditemukan di sepanjang daerah tepian Sungai
Bengawan Solo, dan peninggalan tersebut berasal dari masa 1,7 juta tahun yang
lampau. Situs Sangiran adalah situs prasejarah yang penting di Jawa. Beberapa
struktur megalitik telah ditemukan di pulau Jawa, misalnya menhir, dolmen, meja
batu, dan piramida berundak yang lazim disebut Punden Berundak. Punden berundak
dan menhir ditemukan di situs megalitik di Paguyangan, Cisolok, dan Gunung
Padang, Jawa Barat. Situs megalitik Cipari yang juga ditemukan di Jawa Barat
menunjukkan struktur monolit, teras batu, dan sarkofagus. Punden berundak ini
dianggap sebagai strukstur asli Nusantara dan merupakan rancangan dasar
bangunan candi pada zaman kerajaan Hindu-Buddha Nusantara setelah penduduk
lokal menerima pengaruh peradaban Hindu-Buddha dari India. Pada abad ke-4 SM
hingga abad ke-1 atau ke-5 M Kebudayaan Buni yaitu kebudayaan tembikar tanah
liat berkembang di pesisir utara Jawa Barat. Kebudayaan protosejarah ini
merupakan pendahulu kerajaan Tarumanagara.
Pulau Jawa yang sangat subur dan bercurah hujan tinggi memungkinkan
berkembangnya budidaya padi di lahan basah, sehingga mendorong terbentuknya
tingkat kerjasama antar desa yang semakin kompleks. Dari aliansi-aliansi desa
tersebut, berkembanglah kerajaan-kerajaan kecil. Jajaran pegunungan vulkanik
dan dataran-dataran tinggi di sekitarnya yang membentang di sepanjang pulau
Jawa menyebabkan daerah-daerah interior pulau ini beserta masyarakatnya secara
relatif terpisahkan dari pengaruh luar. Di masa sebelum berkembangnya
negara-negara Islam serta kedatangan kolonialisme Eropa, sungai-sungai yang ada
merupakan utama perhubungan masyarakat, meskipun kebanyakan sungai di Jawa
beraliran pendek. Hanya Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang dapat menjadi
sarana penghubung jarak jauh, sehingga pada lembah-lembah sungai tersebut
terbentuklah pusat dari kerajaan-kerajaan yang besar.
Diperkirakan suatu sistem perhubungan yang terdiri dari jaringan jalan,
jembatan permanen, serta pos pungutan cukai telah terbentuk di pulau Jawa
setidaknya pada pertengahan abad ke-17. Para penguasa lokal memiliki kekuasaan
atas rute-rute tersebut, musim hujan yang lebat dapat pula mengganggu
perjalanan, dan demikian pula penggunakan jalan-jalan sangat tergantung pada
pemeliharaan yang terus-menerus. Dapatlah dikatakan bahwa perhubungan antar
penduduk pulau Jawa pada masa itu adalah sulit.
A. Masa kerajaan Hindu-Buddha
Kerajaan Taruma dan Kerajaan Sunda muncul di Jawa Barat, masing-masing pada
abad ke-4 dan ke-7. Sedangkan Kerajaan Medang adalah kerajaan besar pertama
yang berdiri di Jawa Tengah pada awal abad ke-8. Kerajaan Medang menganut agama
Hindu dan memuja Dewa Siwa, dan kerajaan ini membangun beberapa candi Hindu
yang terawal di Jawa yang terletak di Dataran Tinggi Dieng. Di Dataran Kedu
pada abad ke-8 berkembang Wangsa Sailendra, yang merupakan pelindung agama
Buddha Mahayana. Kerajaan mereka membangun berbagai candi pada abad ke-9,
antara lain Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah.
Sekitar abad ke-10, pusat kekuasaan bergeser dari tengah ke timur pulau Jawa.
Di wilayah timur berdirilah kerajaan-kerajaan Kadiri, Singhasari, dan Majapahit
yang terutama mengandalkan pada pertanian padi, namun juga mengembangkan
perdagangan antar kepulauan Indonesia beserta Cina dan India.
Raden Wijaya mendirikan Majapahit, dan kekuasaannya mencapai puncaknya di masa
pemerintahan Hayam Wuruk (m. 1350-1389). Kerajaan mengklaim kedaulatan atas
seluruh kepulauan Indonesia, meskipun kontrol langsung cenderung terbatas pada
Jawa, Bali, dan Madura saja. Gajah Mada adalah mahapatih di masa Hayam Wuruk,
yang memimpin banyak penaklukan teritorial bagi kerajaan. Kerajaan-kerajaan di
Jawa sebelumnya mendasarkan kekuasaan mereka pada pertanian, namun Majapahit
berhasil menguasai pelabuhan dan jalur pelayaran sehingga menjadi kerajaan
komersial pertama di Jawa. Majapahit mengalami kemunduran seiring dengan
wafatnya Hayam Wuruk dan mulai masuknya agama Islam ke Indonesia.
B. Masa kerajaan Islam
Pada akhir abad ke-16, Islam telah melampaui Hindu dan Buddha sebagai agama
dominan di Jawa, melalui dakwah yang terlebih dahulu dijalankan kepada kaum
penguasa pulau ini. Dalam masa ini, kerajaan-kerajaan Islam Demak, Cirebon, dan
Banten membangun kekuasaannya. Kesultanan Mataram pada akhir abad ke-16 tumbuh
menjadi kekuatan yang dominan dari bagian tengah dan timur Jawa. Para penguasa
Surabaya dan Cirebon berhasil ditundukkan di bawah kekuasaan Mataram, sehingga
hanya Mataram dan Banten lah yang kemudian tersisa ketika datangnya bangsa
Belanda pada abad ke-17.
C. kolonial
Hubungan Jawa dengan kekuatan-kekuatan kolonial Eropa dimulai pada tahun 1522,
dengan diadakannya perjanjian antara Kerajaan Sunda dan Portugis di Malaka.
Setelah kegagalan perjanjian tersebut, kehadiran Portugis selanjutnya hanya
terbatas di Malaka dan di pulau-pulau sebelah timur nusantara saja. Sebuah
ekspedisi di bawah pimpinan Cornelis de Houtman yang terdiri dari empat buah
kapal pada tahun 1596, menjadi awal dari hubungan antara Belanda dan Indonesia.
Pada akhir abad ke-18, Belanda telah berhasil memperluas pengaruh mereka
terhadap kesultanan-kesultanan di pedalaman pulau Jawa (lihat Perusahaan Hindia
Timur Belanda di Indonesia). Meskipun orang-orang Jawa adalah pejuang yang
pemberani, konflik internal telah menghalangi mereka membentuk aliansi yang
efektif dalam melawan Belanda. Sisa-sisa Mataram bertahan sebagai Kasunanan
Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Para raja Jawa mengklaim berkuasa atas
kehendak Tuhan, dan Belanda mendukung sisa-sisa aristokrasi Jawa tersebut
dengan cara mengukuhkan kedudukan mereka sebagai penguasa wilayah atau bupati
dalam lingkup administrasi kolonial.
Di awal masa kolonial, Jawa memegang peranan utama sebagai daerah penghasil
beras. Pulau-pulau penghasil rempah-rempah, misalnya kepulauan Banda, secara
teratur mendatangkan beras dari Jawa untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Inggris sempat menaklukkan Jawa pada tahun 1811. Jawa kemudian menjadi bagian
dari Kerajaan Britania Raya, dengan Sir Stamford Raffles sebagai Gubernur
Jenderalnya. Pada tahun 1814, Inggris mengembalikan Jawa kepada Belanda
sebagaimana ketentuan pada Traktat Paris.[11]
Penduduk pulau Jawa kemungkinan sudah mencapai 5 juta orang pada tahun 1815.
Pada paruh kedua abad ke-18, mulai terjadi lonjakan jumlah penduduk di
kadipaten-kadipaten sepanjang pantai utara Jawa bagian tengah, dan dalam abad
ke-19 seluruh pulau mengalami pertumbuhan populasi yang cepat. Berbagai faktor
penyebab pertumbuhan penduduk yang besar antara lain termasuk peranan
pemerintahan kolonial Belanda, yaitu dalam menetapkan berakhirnya perang
saudara di Jawa, meningkatkan luas area persawahan, serta mengenalkan tanaman
pangan lainnya seperti singkong dan jagung yang dapat mendukung ketahanan
pangan bagi populasi yang tidak mampu membeli beras. Pendapat lainnya
menyatakan bahwa meningkatnya beban pajak dan semakin meluasnya perekutan kerja
di bawah Sistem Tanam Paksa menyebabkan para pasangan berusaha memiliki lebih
banyak anak dengan harapan dapat meningkatkan jumlah anggota keluarga yang
dapat menolong membayar pajak dan mencari nafkah. Pada tahun 1820, terjadi
wabah kolera di Jawa dengan korban 100.000 jiwa.
Kehadiran truk dan kereta api sebagai sarana transportasi bagi masyarakat yang
sebelumnya hanya menggunakan kereta dan kerbau, penggunaan sistem telegraf, dan
sistem distribusi yang lebih teratur di bawah pemerintahan kolonial; semuanya
turut mendukung terhapusnya kelaparan di Jawa, yang pada gilirannya
meningkatkan pertumbuhan penduduk. Tidak terjadi bencana kelaparan yang berarti
di Jawa semenjak tahun 1840-an hingga masa pendudukan Jepang pada tahun
1940-an. Selain itu, menurunnya usia awal pernikahan selama abad ke-19,
menyebabkan bertambahnya jumlah tahun di mana seorang perempuan dapat mengurus
anak.
D. Masa kemerdekaan
Nasionalisme Indonesia mulai tumbuh di Jawa pada awal abad ke-20 (lihat
Kebangkitan Nasional Indonesia), dan perjuangan untuk mempertahankan
kemerdekaan setelah Perang Dunia II juga berpusat di Jawa. Kudeta G 30 S PKI
yang gagal dan kekerasan anti-komunis selanjutnya pada tahun 1965-66 sebagian
besar terjadi di pulau ini. Jawa saat ini mendominasi kehidupan sosial,
politik, dan ekonomi di Indonesia, yang berpotensi menjadi sumber kecemburuan
sosial. Pada tahun 1998 terjadi kerusuhan besar yang menimpa etnis
Tionghoa-Indonesia, yang merupakan salah satu dari berbagai kerusuhan berdarah
yang terjadi tidak berapa lama sebelum runtuhnya pemerintahan Presiden Soeharto
yang telah berjalan selama 32 tahun.
Pada tahun 2006, Gunung Merapi meletus dan diikuti oleh gempa bumi yang melanda
Yogyakarta. Jawa juga sempat terkena sedikit dampak wabah flu burung, serta
merupakan lokasi bencana semburan lumpur panas Sidoarjo.
2. ANEKA
RAGAM BUDAYA YANG MEWARNAI PULAU JAWA
Kebudayaan merupakan hal terpenting dalam daerah yang harus dilestarikan
keberadaannya oleh suku bangsa Indonesia. Kebudayaan merupakan cirri khas
tentang keberadaan suatu daerah. Berikut ini adalah budaya-budaya yang mewarnai
pulau jawa :
a. Jawa Timur
Rumah adat :
Jawa Tengah sebagai salah satu Propinsi di Jawa, letaknya diapit oleh dua
Propinsi besar, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Secara administratif Propinsi
Jawa Tengah terbagi menjadi 29 Kabupaten dan 6 Kota.
Berdasarkan sejarah, perkembangan bentuk rumah tinggal orang jawa dapat
dikategorikan menjadi 4 macam yaitu rumah tradisional:
bentuk Panggangpe
bentuk Kampung
bentuk limasan
bentuk Joglo
Dibanding bentuk lainnya, rumah bentuk joglo lebih
dikenal masyarakat pada umumnya. Rumah Joglo kebanyakan hanya dimiliki oleh
mereka yang mampu. karena rumah joglo butuh bahan lebih banyak dan mahal
ketimbang rumah bentuk lain. Masyarakat jawa dulu menganggap bahwa rumah joglo
tidak boleh dimiliki oleh sembarang orang, oleh orang kebanyakan, tapi hanya
diperkenankan bagi kaum bangsawan, raja, dan pangeran, serta mereka yang
terhormat dan terpandang. Namun dewasa ini rumah joglo digunakan pula oleh
segenap lapisan masyarakat dan juga untuk berbagai fungsi lain, seperti gedung
pertemuan serta perkantoran.
Pada dasarnya rumah bentuk joglo berdenah bujur sangkar, dengan empat pokok
tiang di tengah yang di sebut saka guru, dan digunakan blandar bersusun yang di
sebut tumpangsari. Bentuk persegi empat ini dalam perkembangannya mengalami perubahan
dengan adanya penambahan-penambahan ruang di sisi bangunannya namun tetap
merupakan kesatuan bentuk dari denah persegi empat.
Padepokan Jawa Tengah merupakan sebuah bangunan induk istana Mangkunegaran di
Surakarta. Rumah penduduk dan keraton di Jawa Tengah umumnya terdiri atas 3
ruangan. Pendopo. Pringgitan, dan Dalem.
Kesenian
Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas. Ludruk merupakan salah satu
kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya
seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan
kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang
seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial, dan umumnya dibuka dengan
Tari Remo dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di
daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang; meski keberadaannya semakin dikalahkan
dengan modernisasi.
Reog yang sempat diklaim sebagai tarian dari Malaysia merupakan kesenian khas
Ponorogo yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, reog kini juga menjadi icon
kesenian Jawa Timur. Pementasan reog disertai dengan jaran kepang (kuda
lumping) yang disertai unsur-unsur gaib. Seni terkenal Jawa Timur lainnya
antara lain wayang kulit purwa gaya Jawa Timuran, topeng dalang di Madura, dan
besutan. Di daerah Mataraman, kesenian Jawa Tengahan seperti ketoprak dan
wayang kulit cukup populer. Legenda terkenal dari Jawa Timur antara lain
Damarwulan, Angling Darma, dan Sarip Tambak-Oso.
Seni tari tradisional di Jawa Timur secara umum dapat dikelompokkan dalam gaya
Jawa Tengahan, gaya Jawa Timuran, tarian Jawa gaya Osing, dan trian gaya
Madura. Seni tari klasik antara lain tari gambyong, tari srimpi, tari bondan,
dan kelana.
Terdapat pula kebudayaan semacam barong sai di Jawa Timur. Kesenian itu ada di
dua kabupaten yaitu, Bondowoso dan Jember. Singo Wulung adalah kebudayaan khas
Bondowoso. Sedangkan Jember memiliki macan kadhuk. Kedua kesenian itu sudah
jarang ditemui.
Budaya dan adat istiadat
Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima
banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai
Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah
kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Karesidenan Madiun
(Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri (Kediri,
Tulungagung, Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di
Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup populer di kawasan ini.
Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam.
Kawasan ini mencakup wilayah Tuban, Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara
Jawa Timur merupakan daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima
dari sembilan anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini.
Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang)
dan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini
cukup jauh dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta.
Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura,
mengingat besarnya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat
masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara
adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu.
Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan
yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang
diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi
anak pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara
setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh
bulan), sunatan, pacangan. Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan
monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako’ake
(menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan
peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau
kepanggih. Masyarakat di pesisir barat: Tuban, Lamongan, Gresik, bahkan
Bojonegoro memiliki kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria, berbeda
dengan lazimnya kebiasaan daerah lain di Indonesia, dimana pihak pria melamar
wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan masuk ke dalam keluarga wanita.
Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan
kirim donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun
setelah kematian.
Makanan khas
Makanan khas Jawa Timur di antaranya adalah rawon dan rujak petis. Surabaya
terkenal akan rujak cingur, semanggi, lontong balap, sate kerang, dan lontong
kupang. Kediri terkenal akan tahu takwa, tahu pong, dan getuk pisang. Madiun
dikenal akan nasi pecel madiun dan sebagai penghasil brem. Kecamatan Babat,
Lamongan terkenal akan wingko babat nya. Malang dikenal sebagai penghasil
keripik tempe selain itu Cwie Mie dan Bakso juga merupakan kuliner khas daerah
ini. Bondowoso merupakan penghasil tape yang sangat manis. Gresik terkenal
dengan nasi krawu, otak-otak bandeng,bonggolan dan pudak nya. Sidoarjo terkenal
akan kerupuk udang dan petisnya. Dan Trenggalek merupakan penghasil Tempe
Kripik. Blitar memiliki makanan khas nasi pecel. Buah yang terkenal asli Blitar
yaitu Rambutan. Banyuwangi terkenal dengan sego tempong dan makanan khas
campurannya yaitu rujak soto dan pecel rawon. Jagung dikenal sebagai salah satu
makanan pokok orang Madura, sementara ubi kayu yang diolah menjadi gaplek
dahulu merupakan makanan pokok sebagian penduduk di Pacitan dan Trenggalek.
b. Jawa Barat
Rumah Adat Jawa Barat
Seperti halnya provinsi lain yang ada di Indonesia, Jawa Barat memiliki
berbagai macam rumah tinggal. Salah satunya adalah rumah tinggal yang disebut
jogo anjing, yaitu rumah yang bentuknya segi empat dengan serambi di depan yang
bentuknya masih sederhana. Selain itu, juga ada rumah heuaay bodoh yang
bentuknya sedikit lebih besar, dan rumah julang ugapok yang mempunyai bentuk
atap yang kelihatan megah. Salah satu bentuk rumah yang ada di daerah Jawa
Barat dapat dilihat dari model bangunan Kesultanan Cirebon. Bangunan kesultanan
di daerah Cirebon memiliki berbagai ruangan. Ruang jinem pangrawit atau pendopo
digunakan sebagai tempat berkumpul para punggawa dan prajurit yang sedang
bertugas. Ruang pringgodani digunakan sebagai tempat sultan mengadakan
pertemuan dengan para stafnya. Ruang prabayaksa digunakan sebagai tempat sultan
menerima tamu penting. Sementara, ruang panembahan adalah tempat sultan bekerja
dan beristirahat di siang hari.
Selain ruang-ruang di atas, terdapat ajeng, yaitu bangunan yang terletak paling
depan dan digunakan sebagai tempat kesenian untuk menyambut tamu-tamu penting.
Kemudian ada lunjuk, bangunan yang digunakan para tamu untuk melapor
kedatangannya dengan berbagai keperluan di keraton. Lalu, ada srimenganti,
bangunan yang berfungsi sebagai ruang tunggu. Langgar alit adalah tempat
beribadah dan kegiatan keagamaan keluarga sultan. Jinem arum adalah ruang
pertemuan keluarga sultan. Dan, yang terakhir adalah kaputren, yaitu bangunan
tempat tinggal putri sultan.
Kesenian
Daftar kesenian daerah Jawa Barat
Pencak silat
Jaipong
Gamelan
Wayang Golek
Kuda Renggong
Sisingaan
Kuda Lumping
Angklung
Tari Topeng
Tarling
Degung
Calung
Tayub
Cianjuran
Kiliningan
Tari Ketuk Tilu
Rampak Kendang
Yanuar Wita
Lagu Manuk Dadali
Lagu Cing Cang Keling
Makanan
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar makanan khas Jawa Barat
Batagor
Cireng
Comro
Misro
Tape singkong (Peuyeum)
Oncom
Ubi Cilembu
Mochi
Dodol Garut
Empal Gentong
Sega Jamblang
Kecap Majalengka
Kalua Jeruk
Opak
Tahu Sumedang
Gula Cakar
Wajit
Rengginang
Combro
Gehu
Cimol
Bala-Bala
Gulali
Sele Pisang
Asinan Bogor
Tutug Oncom atau biasa disingkat T.O.
Manisan Cianjur
Cireng
Adat Istiadat Jawa Barat
Penduduk Jawa Barat terdiri dari beberapa suku bangsa. Suku-suku bangsa itu
tersebar di hampir seluruh wilayah Jawa Barat. Meskipun terdapat beberapa suku
bangsa, namun, pada dasarnya memiliki adat istiadat yang sama. Bahasa yang
digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada umumnya adalah Bahasa Sunda dengan
budaya Sunda yang kental. Dalam penggunaan Bahasa Sunda ini pun terdapat
undak-usuk-basa atau tingkat pemakaian bahasa. Masyarakat Sunda juga mengenal
agama Sunda Wiwitan atau Sunda Pertama atau Agama Islam Sunda.
Pada umumnya, masyarakat Sunda menganut falsafah bengkuang ngariung, bongkok
ngaroyot. Pandangan hidup itu berarti kerabat tidak mudah berpisah atau saling
rasa berjauhan meskipun satu sama lain tidak berdekatan tinggalnya.
Selain bahasa yang menjadi ciri khas masyarakatnya, orang Sunda juga sangat
mencintai kesenian. Pada umumnya, kesenian yang ditampilkan adalah kesenian
dengan sikap yang gembira, perasa, dan terbuka. Itu menjadi ciri khas dari
kesenian tradisional masyarakat Sunda.
C. Jawa Tengah
Rumah adat joglo
Rumah Joglo umumnya terbuat dari kayu Jati. Sebutan Joglo mengacu pada bentuk
atapnya, mengambil stilasi bentuk sebuah gunung. Stilasi bentuk gunung
bertujuan untuk pengambilan filosofi yang terkandung di dalamnya dan diberi
nama atap Tajug, tapi untuk rumah hunian atau sebagai tempat tinggal, atapnya
terdiri dari 2 tajug yang disebut atap Joglo/Juglo / Tajug Loro. Dalam kehidupan
orang Jawa gunung merupakan sesuatu yang tinggi dan disakralkan dan banyak
dituangkan kedalam berbagai simbol, khususnya untuk simbol-simbol yang
berkenaan dengan sesuatu yang magis atau mistis. Hal ini karena adanya pengaruh
kuat keyakinan bahwa gunung atau tempat yang tinggi adalah tempat yang dianggap
suci dan tempat tinggal para Dewa.
Rumah Joglo mempunyai banyak jenis seperti
Joglo Lawakan
Joglo Sinom
Joglo Jompongan
Joglo Pangrawit
Joglo Mangkurat
Kesenian jawa tengah
Tarian merupakan bagian yang menyertai perkembangan pusat baru ini. Ternyata
pada masa kerajaan dulu tari mencapai tingkat estetis yang tinggi. Jika dalam
lingkungan rakyat tarian bersifat spontan dan sederhana, maka dalam lingkungan
istana tarian mempunyai standar, rumit, halus, dan simbolis. Jika ditinjau dari
aspek gerak, maka pengaruh tari India yang terdapat pada tari-tarian istana
Jawa terletak pada posisi tangan.
Tarian yang terkenal ciptaan para raja, khususnya di Jawa, adalah bentuk teater
tari seperti wayang wong dan bedhaya ketawang. Dua tarian ini merupakan pusaka
raja Jawa. Bedhaya Ketawang adalah tarian yang dicipta oleh raja Mataram
ketiga, Sultan Agung dengan berlatarbelakang percintaan antara raja Mataram
pertama dengan Kangjeng Ratu Kidul.
beberapa jenis tarian dari provinsi jawa tengah :
Tari Serimpi, sebuah tarian keraton pada masa silam dengan suasana lembut,
agung dan menawan.
Tari Blambangan Cakil, mengisahkan perjuangan Srikandi melawan Buto Cakil
(raksasa). Sebuah perlambang penumpasan angkara murka.
Masih banyak kesenian di provinsi jawa tengah yaitu :
WAYANG KULIT
Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk
di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa. Pertunjukan Kesenian
wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa
dari kepercayaan animisme dan dinamisme. Menurut Kitab Centini, tentang
asal-usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali
diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri. Pada abad ke 10 Raja
Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di
atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief
cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Ceritera Ramayana sangat
menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia,
bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu.
Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru yaitu
perwujudan dari Dewa Wisnu.
KETOPRAK
Ketoprak termasuk salah satu kesenian rakyat di Jawa tengah, tetapi juga bisa
ditemui di Jawa bagian timur. Ketoprak sudah menyatu menjadi budaya masyarakat
Jawa tengah. ketoprak adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam
sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang
diiringi dengan gamelan disajikan. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan
ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah
Jawa. sesudah itu pagelaran Ketoprak semakin lama makin jadi bagus dan menjadi
idola masyarakat, terutama di tanah Yogyakarta. didalam Pagelaran Ketoprak jadi
lengkap dengan memakai cerita dan juga diiringi musik gamelan.
Senjata Tradisional
Keris adalah salah satu senjata tradisional budaya Indonesia, tentunya setelah
nenek moyang kita mengenal besi. Berbagai bangunan candi batu yang dibangun
pada zaman sebelum abad ke-10 membuktikan bahwa bangsa Indonesia pada waktu itu
telah mengenal peralatan besi yang cukup bagus, sehingga mereka dapat
menciptakan karya seni pahat yang bernilai tinggi. Namun apakah ketika itu
bangsa Indonesia mengenal budaya keris sebagaimana yang kita kenal sekarang,
Gambar relief paling kuno yang memperlihatkan peralatan besi terdapat pada
prasasti batu yang ditemukan di Desa Dakuwu, di daerah Grabag, Magelang, Jawa
Tengah. Melihat bentuk tulisannya, diperkirakan prasasti tersebut dibuat pada
sekitar tahun 500 Masehi. Huruf yang digunakan, huruf Pallawa. Bahasa yang
dipakai adalah bahasa Sanskerta. Prasasti itu menyebutkan tentang adanya sebuah
mata air yang bersih dan jernih. dalam filosofi Jawa Kuno adalah lambang ilmu
pengetahuan, kalasangka melambangkan keabadian, sedangkan bunga teratai lambang
harmoni dengan alam.
Adat Istiadat Masyarakat Jawa Tengah
Ada beberapa adat istiadat yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa
Tengah. Mupu adalah salah satu di antaranya. Mupu berarti memungut anak.
Tujuannya agar kelak juga dapat menyebabkan hamilnya ibu yang memungut anak.
Pada saat si ibu hamil, jika mukanya tidak kelihatan bersih dan secantik biasanya,
disimpulkan bahwa anaknya adalah laki-laki. Jika sebaliknya, maka anaknya
perempuan.
Pada saat usia kehamilan 7 bulan, diadakan acara nujuh bulanan atau mitoni.
Pada acara ini disiapkan sebuah kelapa gading dengan gambar wayang Dewa
Kamajaya (jika laki-laki akan tampan seperti Dewa Kamajaya) dan Dewi Kamaratih
(jika perempuan akan cantik seperti Dewi Kamaratih), gudangan (sayuran) yang
dibumbui, lauk lainnya, serta rujak buah. Ketika bayinya lahir, diadakan
slametan, yang dinamakan brokohan. Pada brokohan ini biasanya disediakan nasi
tumpeng lengkap dengan sayur dan lauknya. Ketika bayi berusia 35 hari, diadakan
acara slametan selapanan. Pada acara ini rambut sang bayi dipotong habis.
Tujuannya agar rambut sang bayi tumbuh lebat.
Adat selanjutnya adalah tedak-siten. Adat ini dilakukan pada saat sang bayi
berusia 245 hari. Ini adalah adat di mana sang bayi untuk pertama kalinya
menginjakkan kaki ke atas tanah.
Setelah si anak berusia menjelang 8 tahun, namun masih belum mempunyai adik,
maka dilakukan acara ruwatan. Ini dilakukan untuk menghindarkan bahaya. Ketika
menjelang remaja, tiba waktunya sang anak ditetaki atau dikhitan. Orang Jawa
kuno sejak dulu terbiasa menghitung dan memperingati usianya dalam satuan windu
atau setiap 8 tahun. Peristiwa ini dinamakan windon.
3. ANEKA
RAGAM BAHASA YANG MEWARNAI PULAU JAWA
Bahasa-bahasa yang dipertuturkan di Jawa
Tiga bahasa utama yang dipertuturkan di Jawa adalah bahasa Jawa, bahasa Sunda,
dan bahasa Madura. Bahasa-bahasa lain yang dipertuturkan meliputi bahasa Betawi
(suatu dialek lokal bahasa Melayu di wilayah Jakarta), bahasa Osing dan bahasa
Tengger (erat hubungannya dengan bahasa Jawa), bahasa Baduy (erat hubungannya
dengan bahasa Sunda), bahasa Kangean (erat hubungannya dengan bahasa Madura),
bahasa Bali, dan bahasa Banyumasan. Sebagian besar besar penduduk mampu
berbicara dalam bahasa Indonesia, yang umumnya merupakan bahasa kedua mereka.
4. ANEKA RAGAM SUKU DAN AGAMA YANG MEWARNAI PULAU JAWA
A. SUKU SUNDA
Sebagain besar masyarakat suku Sunda menganut agama Islam, namun ada pula yang
beragama kristen, Hindu, Budha, dll. Mereka itu tergolong pemeluk agama yang
taat, karena bagi mereka kewajiban beribadah adalah prioritas utama. Contohnya
dalam menjalankan ibadah puasa, sholat lima waktu, serta berhaji bagi yang
mampu. Mereka juga masih mempercayai adanya kekuatan gaib. Terdapat juga adanya
upacara-upacara yang berhubungan dengan salah satu fase dalam lingkaran hidup,
mendirikan rumah, menanam padi, dan lain-lainnya.
B. SUKU TENGGER
Mayoritas masyarakat Tengger memeluk
agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan agama Hindu di Bali,
yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger adalah Hindu
Mahayana. Selain agama Hindu, agama laiin yang dipeluk adalah agama Islam,
Protestan, Kristen, dll. Berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianut, setiap
tahun mereka melakukan upacara Kasono. Selain Kasodo, upacara lain yaitu
upacara Karo, Kapat, Kapitu, Kawulo, Kasanga. Sesaji dan mantra amat kental
pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger percaya bahwa
mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih bukan mantra
hitam yang sifatnya merugikan.
C. SUKU OSING
Pada awal terbentuknya masyarakat Osing, kepercayaan pertama suku Osing adalah
ajaran Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Seiring dengan berkembangnya
kerajaan Islam di Pantura menyebabkan agama Islam menyebar dengan cepat
dikalangan suku Osing, sehingga pada saat ini agama masyarakat Osing sebagian
besar memeluk agama Islam. Selain agama Islam, masyarakat suku Osing juga masih
memegang kepercayaan lain seperti Saptadharma yaitu kepercayaan yang kiblat
sembayangnya berada di timur seperti orang Cina, Pamu (Purwo Ayu Mandi Utomo)
yaitu kepercayaan yang masih bernafaskan Islam. Sistem religi yang ada di
masyarakat Osing ada yang mengandung unsur Animisme, Dinamisme, dan
Monotheisme.
D. SUKU JAWA
Suku Jawa merupakan suku terbesar di
Indonesia, baik dalam jumlah maupun luas penyebarannya. Mereka kerap menyebut
dirinya sebagai Wong Jowo atau Tiang Jawi. Orang Jawa telah menyebar hampir ke
semua pulau besar di Indonesia sejak abad ke-18. Selain menyebar di wilayah
nusantara, suku Jawa pada saat itu juga sudah dibawa ke Suriname (Amerika
Selatan), ke Afrika Selatan, dan ke Haiti di Lautan Teduh (Pasifik) oleh
Belanda. Menurut populasi aslinya, suku Jawa menempati wilayah Jawa Tengah,
Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun di luar wilayah itu, sebagian
provinsi Jawa Barat juga banyak suku Jawa, seperti Cirebon, Indramayu, Jakarta,
dan Banten. Di wilayah Sumatra, suku Jawa paling banyak adalah di wilayah
Lampung. Sisanya menyebar ke seluruh pulau besar di Indonesia
E. SUKU BETAWI
Sebagian
besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen;
Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku
Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan
campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena
pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan
Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan
Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas
Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta
Utara.
F. SUKU MADURA
Suku Madura di Indonesia jumlahnya
kira-kira ada 10 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau
sekitarnya, seperti Gili Raja, Pulau Sapudi, Pulau Raas dan Kangean. Selain
itu, orang Madura tinggal di sebelah timur Jawa Timur, dari Pasuruan sampai
utara Banyuwangi. Orang Madura di Situbondo dan Bondowoso, serta timur
Probolinggo jumlahnya paling banyak, dan jarang yang bisa berbahasa Jawa.
Bahasa yang dipergunakan oleh Suku Madura adalah bahasa Madura, bahasa Jawa dan
bahasa Indonesia. Agama mereka sebagian besar adalah Islam dan sebuah minoritas
kecil ada yang beragama Kristen. Suku Madura juga banyak dijumpai di propinsi
lain seperti Kalimantan, di Sampit dan Sambas. Orang Madura pada dasarnya
adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk
bertani. Orang Madura senang berdagang dan dominan di pasar-pasar. Selain itu
banyak yang bekerja menjadi nelayan, buruh, pengumpul besi tua dan
barang-barang rongsokan lainnya. Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang
blak-blakan serta sifatnya yang keras dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga
dikenal hemat, disiplin dan rajin bekerja. Selain itu orang Madura dikenal
mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik
Laut atau Rokat Tasse (sama dengan Larung Sesaji).
Keunikan
Budaya Jawa
Suku Jawa (Jawa ngoko: wong Jowo, krama: tiyang
Jawi) merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa
Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia
merupakan etnis Jawa. Selain di ketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak
bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka
banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga memiliki
sub-suku, seperti Osing dan Tengger.
Dalam
kebudayaan Jawa terdapat Tridarma (tri: tiga dan darma: pengabdian) yaitu
filosofi sikap yang pernah dicanangkan oleh Mangkunegara I (Said) untuk
dipegang setiap warganegara maupun pemimpin apabila ingin wilayahnya makmur.
Motto ini populer di kalangan warga Kota Surakarta dan menjadi pegangan pemerintahan
Praja Mangkunegaran hingga sekarang.
Secara
lengkap Tridarma berbunyi
Rumangsa
mèlu handarbèni ("merasa ikut memiliki")
Wajib
mèlu hanggondhèli (("berkewajiban ikut membela/mempertahankan")
Mulat
sarira hangrasa wani ("berani berintrospeksi/mawas diri")
Pada
awalnya, motto ini dipakai oleh Said untuk membina kesatuan gerakan
pemberontakan yang dipimpinnya. Setelah ia menjadi Mangkunagara I Tridarma
diterapkannya pula kepada warganya.
Baris
terakhir Tridarma sekarang dipakai sebagai motto Kota Surakarta. Soeharto,
presiden kedua Indonesia, diketahui juga berusaha mempraktekkan petuah ini
meskipun dianggap tidak berhasil.
Keunikan Jawa Tengah terletak
pada budaya serta tradisi luhur dan estetis yang tetap terjaga, disertai dengan
keramahan, jiwa kewirausahaan yang tangguh dan keterbukaan terhadap inovasi.
Sejarah menunjukkan kedekatan
hubungan antara orang Jawa dengan alam, pegunungan, ngarai, dan pantai yang
sangat mewarnai karakter budaya dan tradisi Jawa Tengah dan tercermin pada
kriya, olah seni dan mahakarya budaya yang penuh makna.
Kreatifitas yang muncul dari
tangan-tangan orang Jawa, merupakan bentuk nyata dari cipta, rasa, dan karsa,
yang terinspirasi dari makrokosmos yang merangkum mikrokosmos.
Kekuatan inspirasi jagat raya, olah
kreatifitas dan etos kerja keras orang Jawa
menghasilkan antara lain Borobudur, Prambanan, Wayang, Gamelan, Topeng,
Keris, dan Batik, yang menjadi warisan budaya dunia karena setiap artefak
tersebut membawa serta kecantikan wujud dan kedalaman makna bagi kehidupan
manusia secara universal.
SAFE OUR
CULTUR!!!!!